BANDUNG BARAT - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bandung Barat menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Segmentasi Pemilih Pemula Tahun 2026 pada 21–22 April 2026 di Lembang Asri Resort yang mengikut sertakan pemilih muda dan pemilih pemula sebagai sasaran kegiatan. Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari perwakilan siswa/siswi SMA/sederajat, mahasiswa, serta organisasi kepemudaan seperti IPNU/IPPNU, PMII, HMI, dan kelompok pelajar/mahasiswa lainnya yang ada di Kabupaten Bandung Barat.
Ketua KPU Kabupaten Bandung Barat, Ripqi Ahmad Sulaeman, dalam sambutannya menegaskan urgensi pendidikan politik sebagai fondasi bagi lahirnya pemilih yang cerdas dan rasional. Ia menekankan bahwa partisipasi pemilih tidak berhenti di Tempat Pemungutan Suara (TPS), melainkan mencakup keterlibatan dalam seluruh tahapan pemilu dan pemilihan sebagai bentuk legitimasi terhadap kepemimpinan yang dihasilkan. Tingginya partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi indikator penting dalam mewujudkan pemerintahan yang kuat dan berkualitas.
Gambar 1. Sambutan sekaligus pembukaan kegiatan oleh Ketua KPU Bandung Barat
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Bandung Barat, Weda Wardiman, yang mengapresiasi konsistensi KPU Kabupaten Bandung Barat dalam mengarusutamakan pendidikan politik, khususnya bagi pemilih muda dan pemilih pemula. Ia menegaskan bahwa hak memilih merupakan hak konstitusional yang dilindungi undang-undang, serta mendorong generasi muda untuk berperan aktif dalam melawan hoaks dan membangun literasi digital yang sehat. Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat, Asep Muslim Sugilar, juga mengajak peserta untuk mengedepankan “vokasi politik”, yakni memilih dengan niat baik, disertai kemampuan menelaah rekam jejak dan kapasitas calon pemimpin secara kritis.
Gambar 2. Sambutan dari Kepala Kesbangpol dan dan Anggota DPRD Bandung Barat
Dalam sesi materi, AKP Dimas Pambudi (Kasat Intelkam Polres Cimahi) memaparkan definisi dan syarat pemilih muda dan pemilih pemula, sekaligus menyoroti ancaman siber, politik uang, serta pentingnya peran pemilih muda dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Ia menekankan bahwa literasi digital, sikap kritis terhadap informasi, serta penolakan terhadap politik uang merupakan bagian integral dari integritas demokrasi. Narasumber lainnya, M. Yuga Wirapradja, menyoroti pentingnya kedaulatan pemilih muda dan partisipasi pemilih pemula; Dr. Radea Yuli Ahmad Hambali mengangkat peran generasi muda sebagai penentu masa depan bangsa; dan H. Cecep Nedi Sugilar mengkaji posisi pemilih muda dan pemilih pemula sebagai pilar demokrasi dalam perspektif nilai-nilai keagamaan.
Gambar 3. Tam Tamasya dan Siti Nani bertindak sebagai moderator
Gambar 4. Penyampaian materi dari para narasumber
Gambar 5. Pertanyaan dari sesi diskusi bersama peserta
Anggota KPU Kabupaten Bandung Barat Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat, Deni Firman Rosadi, menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan langkah strategis dalam menyongsong bonus demografi, di mana dominasi populasi usia muda harus diimbangi dengan kualitas literasi politik yang memadai.
Gambar 6. Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM turut memandu jalannya diskusi
Kegiatan ditutup oleh Anggota KPU Provinsi Jawa Barat, Hedi Ardia, yang menegaskan pentingnya suara pemilih muda dan pemilih pemula dalam menentukan arah demokrasi, serta mendorong peserta untuk mengenali dan memahami profil calon sebelum menentukan pilihan.
Gambar 7. Penutupan kegiatan oleh Anggota KPU Provinsi Jawa Barat
Melalui kegiatan ini, KPU Kabupaten Bandung Barat menegaskan komitmennya dalam merawat pilar-pilar demokrasi melalui pembentukan pemilih yang cerdas, kritis, dan berdaulat. Diharapkan, kegiatan ini mampu mendorong pemilih khususnya generasi Z untuk berpartisipasi aktif, baik sebagai pemilih, pengawas partisipatif, agen sosialisasi di lingkungan masing-masing, maupun sebagai bagian dari penyelenggara ad hoc pada pemilu dan pemilihan mendatang.
Pada akhirnya, Ketua KPU Kabupaten Bandung Barat menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan dan kekuatan pemerintahan sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya sistematis untuk meningkatkan partisipasi pemilih, khususnya dari kalangan generasi muda, pada pemilu dan pemilihan yang akan datang.(eg)
Selengkapnya